10 Maret 2011

Sejarah Pendidikan Islam Sejak Nabi Adam

SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM

Kata sejarah dalam bahasa Arab disebut tarih , yang menurut bahasa artinya ketentuan ‎masa, sedang menurut istilah berarti “keterangan yang telah terjadi pada masa lampau atau pada ‎masa sekarang”, dan dalam bahasa Inggris sejarah disebut history, yang berarti “pengalaman masa ‎lampau dari pada umat manusia” (the past experience of mankind), sayyid quttub juga ‎mengatakan bahwa sejarah bukanlah peristiwa—peristiwa ,melainkan tafsiran peristiwa –‎peristiwa itu, maka sejarah pendidikan Islam adalah keterangan -keterangan mengenai ‎pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam dari waktu ke waktu yang lain,sejak jaman ‎lahirnya islam sampai sekarang

Oleh karena itu, Sejarah Pendidikan Islam dimulai sejak sebelum diutusnya nabi ‎Muhammad SAW ke dunia, yakni sejak nabi Adam pun Pendidikan Islam telah ada, akan tetapi ‎banyak para sejarawan seperti Harun Nasution berpendapat bahwa pendidikan Islam dimulai ‎sejak diutusnya nabi Muhammad SAW ke dunia dengan membawa ajaran Islam , kedua ‎pendapat ini tidak salah akan tetapi penulis lebih sependapat bahwa pendidikan Islam dimulai ‎sejak nabi Adam diturunkan kebumi, karena pesan substansial yang disampaikan oleh pendidikan ‎Islam adalah nilai-nilai ke—Tauhidan, dan semenjak nabi Adam telah disampaikan nilai –nilai ‎ketauhidan kepada Manusia, hanya saja pada saat itu Islam belum diverbalkan sehingga ini yang ‎menjadi pemicu perbedaan tersebut. ,seperti di dalam alqura’an surat Al-baqoroh ayat 30-38.‎
‎     ‏
Artinya :‎
‎30. ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak ‎menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak ‎menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan ‎menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan ‎mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ‎ketahui."‎
‎31. dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian ‎mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-‎benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"‎
‎32. mereka menjawab: "Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang ‎telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha ‎Bijaksana[35]."‎
‎33. Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka Nama-nama benda ini." Maka ‎setelah diberitahukannya kepada mereka Nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah ‎sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan ‎mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"‎
‎34. dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah[36] kamu kepada ‎Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia Termasuk ‎golongan orang-orang yang kafir.‎
‎35. dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah ‎makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu ‎dekati pohon ini[37], yang menyebabkan kamu Termasuk orang-orang yang zalim.‎
‎36. lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu[38] dan dikeluarkan dari Keadaan ‎semula[39] dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, ‎dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ‎ditentukan."‎
‎37. kemudian Adam menerima beberapa kalimat[40] dari Tuhannya, Maka Allah menerima ‎taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.‎
‎38. Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! kemudian jika datang petunjuk-Ku ‎kepadamu, Maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas ‎mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati".‎

Surat al-a’raf ayat 19-20‎

Artinya ‎
‎19. (dan Allah berfirman): "Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta ‎makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu ‎berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua Termasuk orang-orang yang zalim."‎
‎20. Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk Menampakkan kepada ‎keduanya apa yang tertutup dari mereka Yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak ‎melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi Malaikat ‎atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)".‎

Menurut Al-Imam At-Thabari dalam Tarikhnya bahwa Mujahid meriwayatkan keterangan ‎Abdullah bin Abbas bin Abdul Mutthalib yang mengatakan : ”Adam diturunkan dari surga ke ‎bumi di negeri India.” Abu Shaleh meriwayatkan juga dari Ibnu Abbas yang menerangkan bahwa ‎Hawa diturunkan di Jeddah (Arab : Nenek perempuan) yang merupakan bagian dari Makkah. ‎Kemudian dalam riwayat lain At-Thabari meriwayatkan lagi bahwa iblis diturunkan di negeri ‎Maisan, yaitu negeri yang terletak antara Basrah dengan Wasith. Riwayat lain menyebutkan, ‎Adam diturunkan di bukit Shafa dan Siti Hawa di bukit Marwah. Sedangkan riwayat lain ‎menyebutkan Adam AS diturunkan di antara Makkah dan Thaif. Ada pula yang berpendapat ‎Adam di turunkan di daerah India, sementara Hawa diturunkan di Irak.
Al-quran sendiri tidak menerangkan secara jelas dimana Adam dan Hawa diturunkan. Alquran ‎hanya menjelaskan tentang proses diturunkanya Adam dan Hawa ke bumi. Lihat Al-Baqarah ‎‎[2]:30-38 dan Al-A’raaf [7]:11-25.‎

Setelah kita sedikit mengulas tentang kisah nabi Adam didalamnya banyak terndapat ‎suatu nilai pendidikan yaitu di antaranya Bahawasanya hikmah yang terkandung dalam perintah-‎perintah dan larangan-larangan Allah dan dalam apa yang diciptakannya kadangkala tidak atau ‎belum dapat dicapai oelh otak manusia bahkan oleh makhluk-Nya yang terdekat sebagaimana ‎telah dialami oleh para malaikat tatkala diberitahu bahawa Allah akan menciptakan manusia - ‎keturunan Adam untuk menjadi khalifah-Nya di bumi sehingga mereka seakan-akan berkeberatan ‎dan bertanya-tanya mengapa dan untuk apa Allah menciptakan jenis makhluk lain daripada ‎mereka yang sudah patuh rajin beribadat, bertasbih, bertahmid dan mengagungkan nama-Nya.‎
Bahawasanya manusia walaupun ia telah dikurniakan kecergasan berfikir dan kekuatan ‎fizikal dan mental ia tetap mempunyai beberapa kelemahan pada dirinya seperti sifat lalai, lupa ‎dan khilaf.Hal mana telah terjadi pada diri Nabi Adam yang walaupun ia telah menjadi manusia ‎yang sempurna dan dikurniakan kedudukan yang istimewa di syurga ia tetap tidak terhindar dari ‎sifat-sifat manusia yang lemah itu.Ia telah lupa dan melalaikan peringatan Allah kepadanya ‎tentang pohon terlarang dan tentang Iblis yang menjadi musuhnya dan musuh seluruh ‎keturunannya, sehingga terperangkap ke dalam tipu daya dan terjadilah pelanggaran pertama ‎yang dilakukan oleh manusia terhadap larangan Allah.‎
Bahawasanya seseorang yang telah terlanjur melakukan maksiat dan berbuat dosa ‎tidaklah ia sepatutnya berputus asa dari rahmat dan ampunan Tuhan asalkan ia sedar akan ‎kesalahannya dan bertaubat tidak akan melakukannya kembali.Rahmat allah dan maghfirah-Nya ‎dpt mencakup segala dosa yang diperbuat oleh hamba-Nya kecuali syirik bagaimana pun besar ‎dosa itu asalkan diikuti dengan kesedaran bertaubat dan pengakuan kesalahan.

Sifat sombong dan congkak selalu membawa akibat kerugian dan kebinasaan.Lihatlah Iblis yang ‎turun dari singgahsananya dilucutkan kedudukannya sebagai seorang malaikat dan diusir oleh ‎Allah dari syurga dengan disertai kutukan dan laknat yang akan melekat kepada dirinya hingga ‎hari Kiamat karena kesombongannya dan kebanggaaannya dengan asal-usulnya sehingga ia ‎menganggap dan memandang rendah kepada Nabi Adam dan menolak untuk sujud ‎menghormatinya walaupun diperintahkan oleh Allah s.w.t.‎
Dari sedikit penjelasan penjelsan diatas bias kita simpulkan bahwasannya  

Pendidikan Islam yang berlangsung sebelum Nabi Muhammad di utus kebumi dan memilki ‎orientasi penanaman nilai—nilai ketauhidan, seperti yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS, Nabi ‎Musa AS, Nabi Nuh AS, Nabi Isa AS dan para Nabi yang lain, akan tetapi pada masa mereka ‎Pendidikan Islam hanya di sampaikan kepada Umat beliau saja, dan ini sesuai dengan peran ‎mereka, beda halnya dengan pada Masa Nabi Muhammad Pendidikan Islam disampaikan kepada ‎semua Umat, hal ini senada dengan Firman Allah “Inna Arsalnaka Illa Rahmatan Lil Alamin”,‎

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar